Sabtu, 04 Juli 2009

5 (Lima) Unsur Pembangkit Tenaga Dalam Tetada Kalimasada

Anggota Tetada Kalimasada secara garis besar sudah pernah atau sering mendengar seminar/ sarasehan/ presentasi, membaca brosur, penjelasan Pelatih/ Aspel, bahwa inti latihan dari Lembaga Pengembangan Ilmu dan Terapi Tenaga Dalam "Tetada Kalimasada" adalah membangkitkan tenaga listrik dari "generator tubuh manusia" dan mengoptimalkannya sehingga menjadi "electro power" atau biasa disebut "bio-listrik" yang bisa dimanfaatkan sebagai tenaga pengobatan maupun beladiri.

Dengan suatu metode tertentu serta ketekunan berlatih, aliran-aliran listrik dalam tubuh manusia atau getaran-getaran bio-listrik yang disebut dengan "tenaga dalam" dapat disalurkan kemana saja, baik ke dalam tubuh sendiri ataupun keluar tubuh (ditransfer).

Penyaluran getaran listrik inilah yang dapat dipergunakan untuk berbagai macam keperluan, misalnya untuk pengobatan diri sendiri, orang lain maupun bela diri. Proses atau faktor penunjang untuk membangkitkan dan mengelola tenaga dalam "Kalimasada" adalah dengan metode-metode atau latihan-latihan tertentu.

Pada kesempatan ini akan kami uraikan sedikit mengenai metode-metode latihan Tenaga Dalam Tetada Kalimasada.

Metode Latihan Tenaga Dalam Kalimasada

1. Gerakan Jurus

2. Olah Pernafasan

3. Konsentrasi Alpha

4. Relaksasi Progresif dan

5. Sinkronisasi Getaran

1. Gerakan Jurus

Jurus yang diajarkan oleh Kalimasada merupakan suatu gerakan-gerakan yang "menggesek" kumpulan-kumpulan syaraf atau "cakra", yang mana merupakan pusat atau sentral daripada medan listrik yang ada di tubuh manusia, dengan tujuan "memberikan rangsangan" agar membuat jadi aktif bio-listrik yang ada di dalam tubuh tersebut.

Menurut LPI Tetada Kalimasada, ada 7 (tujuh) "Pusat Medan Listrik", didalam tubuh manusia atau yang disebut dengan istilah "Cakra", yang terdiri dari : Cakra Dasar/ Akar/ Sex, Cakra Pusar, Cakra Limpa, Cakra Jantung, Cakra Tenggorokan, Cakra Alis, dan Cakra Mahkota.

<<

2. Olah Pernafasan

Nafas adalah kebutuhan mendasar bagi setiap mahkluk hidup bahkan oleh bayi yang masih dalam kandungan ibunya sekalipun.

Manusia sebagai mahkluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, memiliki alat pernafasan yang vital untuk kelangsungan hidupnya. Manusia dapat bertahan hidup tanpa makan dan minum dalam waktu yang relatif cukup panjang, bisa beberapa hari atau minggu, namun manusia tidak sanggup bertahan beberapa saat saja tanpa menghirup udara atau tanpa bernafas.

"Nafas" adalah "Hidup". Segala sesuatu kehidupan di dunia ini tergantung dari nafas, itu suatu kenyataan yang tidak dapat kita pungkiri. Lamanya rangkaian nafas yang dapat dipertahankan itulah yang menentukan panjang dan pendeknya kehidupan.

Seperti yang telah disebutkan diatas, bahwa kebutuhan manusia yang lain seperti makan, minum dan sebagainya, masih dapat ditunda atau ditangguhkan beberapa hari lamanya, tetapi macetnya pernafasan selama beberapa menit sudah dapat membawa akibat kematian bagi manusia. Dengan demikian kita dapat mengetahui betapa pentingnya arti "pernafasan" itu, dan merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Udara yang mengandung Oksigen (Zat Asam) maupun Nitrogen (Zat Lemas) dan sebagainya yang dibutuhkan oleh manusia dan mahkluk hidup lainnya, yang merupakan Karunia Tuhan Yang Maha Pemurah, yang kita hirup sepanjang hidup kita tanpa harus membeli atau membayar satu senpun, namun kebanyakan dari kita seringkali bersikap tidak peduli, melupakan dan tanpa rasa syukur akan nikmat yang tidak terhingga yang diberikan oleh Tuhan tersebut, sehingga kita bersikap sepi saja terhadap arti pernafasan yang sangat begitu penting artinya bagi manusia.

Mungkin selama ini, atau sejak kita dilahirkan sudah tidak asing lagi dengan apa yang disebut pernafasan itu, namun bagi kita jarang menjiwai atau merasakan dengan sebenarnya pada udara yang ada di sekeliling kita.

Marilah kita sejenak merasakan, menikmati serta menjiwai udara yang ada di sekeliling kita, yang mungkin selama ini kita sepelekan. Caranya : tariklah/ hiruplah udara yang segar dengan pernafasan yang panjang, keluarkan dan hirup udara lagi, demikian kita ulangi beberapa kali.

Apa yang kita rasakan, akan terasa suatu "kenikmatan" atau "kesegaran" yang selama ini kurang begitu kita perhatikan, kenikmatan dan kesegaran itu akan menyebar keseluruh tubuh kita.

Sukar untuk menguraikan dengan kata-kata bagaimana kenikmatan yang kita terima dan rasakan tersebut. Hal itu sudah cukup merupakan suatu tindakan awal bagi kita dalam mengenal udara dan pernafasan dengan lebih nyata, dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya yang mana selama ini kita mengacuhkannya.

Dan suatu hal yang akan menjadi suatu langkah lanjut yang lebih bermanfaat bagi diri kita apabila kita dapat belajar serta melakukan cara bernafas yang benar dari ahli-ahli yang benar, yang pada akhirnya dapat menimbulkan kesehatan, kekuatan yang bermanfaat bagi diri kita dan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak.

Seperti yang kita ketahui bahwa udara yang kita hirup ini mengandung Oksigen (Zat Asam) dan Nitrogen (Zat Lemas) yang semua itu sangat vital bagi kehidupan manusia diatas bumi ini.

Tetapi sangat berbeda sekali arti pernafasan bagi orang awam dengan seseorang yang mengerti atau mengetahui betapa pentingnya "melakukan cara bernafas yang benar sesuai dengan aturan yang ditentukan".

Orang awam mengempas nafasnya sehari-hari, menghabiskan tenaga dan kekuatan inti didalam tubuhnya dengan cara hidup yang semata-mata memburu kepentingan hawa nafsu keduniawian semata tanpa memperhatikan kesehatan tubuh dan jiwanya.

Seorang ahli yang mengerti arti cara bernafas yang benar, biarpun hidup seperti layaknya manusia awam pada umumnya, namun memiliki kelebihan tertentu dalam membentengi diri dengan cara membina "tenaga didalam tubuhnya", sehingga senantiasa terpelihara sebagai "sumber inti tenaga" yang utuh dan tidak dibocorkan/ dibuang dengan sia-sia.

Kalau kita mengamati lebih dalam, bahwa hidup manusia bukan sekedar datang dari makanan dan minuman yang kita telan setiap hari, tetapi fungsi pernafasan didalam menghirup sumber tenaga alam semesta merupakan "sumber tenaga yang luar biasa", yang menggerakkan paru-paru, jantung serta organ-organ bagian dalam lainnya untuk mengolah sari makanan dari dalam lambung kita dan mengubahnya menjadi tenaga yang berguna.

Sekarang yang menjadi permasalahan ialah bagaimana dan dengan cara apa kita bernafas atau menghirup udara yang berisi zat-zat inti kehidupan itu, agar terhimpun sebagai sumber energi didalam tubuh kita.

Di dalam tubuh manusia terdapat suatu tempat atau wadah yang dapat dinamakan sebagai "samudera energi" atau "Sumber dari Sumber Kekuatan" yang merupakan tempat bersemayamnya "daya kekuatan inti" dan apabila dilatih dengan cara yang benar akan dapat didayagunakan sesuai dengan keinginan kita.

Hal ini tidak mungkin dicapai atau didayagunakan dengan sekedar mengandalkan pernafasan luar, yang biasa dilakukan oleh manusia biasa pada umumnya, tenaga mereka habis musnah dan otot-otot tubuh mereka tidak mengandung daya kekuatan, sehingga nafas memburu terengah-engah apabila mereka bergerak atau berlari dalam jangka waktu yang pendek saja.

Hanya orang yang mengerti sajalah yang dapat mengatur pernafasannya dan menyimpan kekuatan inti mereka dengan tidak memboroskannya dengan mempergunakan sebagaimana yang diperlukan.

Orang yang mengetahui betapa pentingnya arti arti pernafasan, akan berpendapat bahwasanya suatu kehidupan apabila ditopang dengan cara bernafas yang baik dan benar akan dapat menyebabkan penyakit menjadi suatu hal yang "langka' dan kemampuannya pun akan menjadi "luar biasa".

Di dalam hal ini para ahli dari dunia Timur telah menunjukkan kebolehannya dalam menemukan berbagai macam sistem pengolahan pernafasan. Sedangkan di dunia barat jauh ketinggalan dibandingkan dengan bangsa dari Timur.

Oleh karena itu berbanggalah kita sebagai orang Timur, karena kita dapat belajar dan mempelajari serta berlatih cara mengolah pernafasan yang benar dari guru bangsa kita sendiri, yang nantinya dapat kita gunakan untuk kepentingan diri kita pribadi dan dapat kita amalkan demi kepentingan orang banyak, amin.

Olah pernafasan dalam yayasan Tetada Kalimasada adalah "pernafasan perut" atau "nafas abdomen" dengan siklus "segitiga sama kaki" yang cara penarikan dan cara pengeluarannya adalah dengan mempergunakan hidung (nafas alami), dan lamanya antara tarik dan keluar harus sama, yaitu selama 15 dzikir dan disamping itu ada proses "tekan nafas" selama 33 dzikir yang dilakukan dibawah diafragma yang dapat divisualisasikan letaknya, yaitu 3 jari dibawah pusar.

Disamping itu untuk kesempatan pada waktu tekan nafas harus ada "kerutan pada anus", hal ini juga bertujuan agar yang mempunyai sakit wasir/ ambeien tidak terjadi akibat yang merugikan.

<<

3. Konsentrasi Alpha

Konsentrasi yang dipergunakan dalam Kalimasada adalah "Konsentrasi Alpha", yaitu melakukan konsentrasi dengan cara "berdzikir" atau memuji serta mengagungkan Nama Tuhan secara berkesinambungan, yang mana dalam hal ini bertujuan serta berfungsi untuk menembus "lapisan bawah sadar" manusia untuk menuju konsentrasi dimana tingkat emosi dalam keadaan 0 (nol) tetapi pikiran dalam kondisi terkontrol penuh, dengan kata lain tenang tetapi waspada.

Dengan penggabungan antara "gerakan jurus", olah pernafasan dan konsentrasi inilah suatu proses pembangkitan dan pengaktifan tenaga dalam dari tubuh pemiliknya dapat terjadi. Melakukan jursu dengan pengolahan pernafasan ini dapat disebut dengan "nafas lahir", sedangkan konsentrasi dengan cara berdzikir disebut dengan "nafas bathin".

Jadi adanya keseimbangan antara "nafas lahir" dan "nafas bathin" adalah mutlak dibutuhkan dalam keilmuan kalimasada.

<<

4. Relaksasi Progresif

Relaksasi progresif atau disebut juga dengan istilah "tafakur" adalah suatu cara atau proses pendistribusian aliran bio-listrik ke seluruh tubuh/ ke tempat tertentu sesuai dengan keinginan kita. Dalam kondisi ini kelima indera kita harus dapat dipasifkan (dengan cara dan metode tertentu) karena perintah pengaliran bio-listrik itu harus terjadi dari "indera keenam" kita atau dengan kata lain semua "komputer" di tubuh kita harus dimatikan agar indera keenam dapat aktif.

<<

5. Sinkronisasi Getaran

Sinkronisasi getaran adalah merupakan suatu proses atau tahapan yang dilalui dalam pembangkitan tenaga dalam Kalimasada. Acara ini dilaksanakan secara kolektif atau bersama-sama, dimana guru besar atau Pembina keilmuan menerima pancaran getaran bio-listrik dari seluruh peserta yang hadir kemudian frekuensi getaran tersebut di-"tune in" ke frekuensi yang efektif untuk pengobatan, kemudian diakselerasikan kembali kepada masing-masing peserta. Biasanya dalam acara ini juga dilakukan praktek pengobatan secara massal, baik pengobatan untuk diri sendiri, orang lain, juga pengobatan jarak jauh.

My Location

Pengikut

Arsip Blog